Inspirasi Tukang Kebun dan Pengembang Perumahan

Eka Soelistya

img_7259_r2_c1Keseriusan berwirausaha sejak usia muda membawa Eka Soelistya terus bertahan hingga sekarang. Awalnya ia bersama  saudaranya menekuni bisnis landscaping dan gardening serta aquarium air laut, kini ia terus mengembangkan dunia properti yang ia rintis sejak tahun 1996 silam.

Tak mudah bagi pria berusia 66 tahun ini untuk mengawali bisnis properti. Satu tahun setelah ia menjajal usaha perumahan rakyat lewat  PT. Eka Griya Lestari yang ia bentuk, saat itu pula ia harus berhadapan dengan krisis ekonomi 1998 yang telah mengguncang segala sektor.

“Termasuk saya. Satu tahun setelah berani memasarkan perumahan, saat itu juga ikut kena imbas,” kata Eka saat ditemui di kediamannya jalan Suyudono 106-108 Kota Semarang.

Namun bukan Eka namanya kalau tidak mampu melewati tantangan berat. Berkat keuletannya pula ia akhirnya mampu bertahan. Kini PT. Eka Griya Lestari telah mengembangkan hingga 400 unit rumah atau melonjak lebih jauh dari awal pembangunan sekitar puluhan.

Bahkan ayah Andrew Soelistya dan Agnes Soelistya ini menargetkan tambahan hunian di kawasan  Kelurahan Beringin, Kecamatan Ngaliyan bertambah 500 unit lagi.

“Itu pun karena aturan baru, pengembang minimal menyediakan lahan 120 meter untuk ukuran tipe terkecil,” kata Eka. Kalau tidak, ia memastikan  akan menambah sisa lahan menjadi lebih banyak rumah yang bisa dihuni oleh masyarakat luas.

Ihwal menjadi pengusaha properti bukan hal yang mudah bagi Eka. Awalnya ia hanya menikmati sisa penjualan lahan kebun rumput hias miliknya kurang lebih seluas 9 hektar ke pengembang asal Jakarta. Namun akhirnya pengembang asal Jakarta membatalkan usahanya dan akhirnya menjual kembali kawasan yang telah dibelinya kepada Eka. Karena Eka juga tidak memiliki ijin prinsip akhirnya Eka terpaksa menjual lahan tersebut kepada pengembang yang memiliki ijin di lokasi tersebut. Dan Eka dibimbing oleh pengembang tersebut di bidang pengembangan perumahan serta diberikannya perijinannya untuk mengembangkan perumahan di kawasan Kelurahan Beringin. Eka akhirnya mendapat pengganti dengan cara membeli lahan di kawasan kelurahan Beringin seluas 30 hektar dan terus berkembang dengan banyak bangunan hingga sekarang.

img_7292_r1_c1Menjadi pengusaha properti yang sukses ternyata tak sesuai dengan latar belakangnya yang banyak berkecimpung sebagai karyawan di dunia pemasaran dan jauh dari usaha pengembang perumahan.

Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Satya Wacana tahun 1973 itu justru mengawali karier sebagai marketing training di PT. HADI KUSUMO yang bergerak di bidang kosmetik. Sekitar 10 tahun kemudian ia pindah bekerja sebagai marketing manajer  di SRI RATU Semarang. Keuletan  di perusahaan pasar raya itu telah membawa dia menjadi General Manager  yang membawahi sejumlah cabang meliputi Semarang, Purwokerto dan persiapan Kota Pekalongan.

Namun dengan karier yang baik justru Eka ingin mencari tantangan baru, memutuskan keluar dan bekerja di Groupnya Toko Ada Swalayan yang membidangi garmen dan pertokoan. Selama tiga tahun bekerja di perusahaan itu sejak 1993 hingga 1995, Eka memilih keluar  dan menjajal usaha sendiri di sektor properti  yang tidak pernah ada hubungannya dengan dunia yang sebelumnya ia geluti.

“Saya mengandalkan pengalaman saat bekerja, saat itu belajar banyak dari manajemen perusahaan tempat saya kerja,” katanya.

Kisah Tukang Kebun Menjadi Juragan Properti

Jauh waktu sebelum Eka Soelistya malang melintang ia bekerja ikut orang lain kemudian mendirikan PT. Eka Griya Lestari, ia telah punya kegiatan membudidayakan rumput Manila dan tanaman hiasnya. Salah satu jenis usaha agri  itu dibudidayakan di lahan seluas  5 hektare di kawasan Jangli.  Saat itu mengelola usaha sambil sekolah, berbarengan dengan mengelola  akuarium air laut dan ikan hias. “Saat itu nilai jual tanah lebih rendah di bawah rumput Manila,” kata Eka.

Tepatnya tahun 1973 harga tanah per meter hanya Rp 5 ribu, sedangkan rumput yang ia budidayakan mencapai Rp 7.500 per meter. Ia pun terus mengembangkan lahan hingga mencapai 9 hektare, kemudian menjual ke pengembang asal Jakarta yang hendak mendirikan perumahan di atas lahan miliknya. “Namun perusahaan itu menjual kembali dan karena tersandung masalah kerja sama.” kata Eka mengenang.

Kini tanah bekas miliknya yang telah dijual itu jadi perumahan Grand Candi Gold. Ia sendiri menginvestasikan uang hasil penjualan tanahnya dengan cara membeli di kawasan Beringin kecamatan Ngaliyan  dan memulai mengembangkan perumahan lewat PT Eka Griya Lestari yang didirikan setelah meninggalkan pekerjaannya di Groupnya Toko Ada Swalayan.

Meski tak mudah untuk mengawali usaha properti ini, tak jarang Eka harus menanggung risiko kenaikan bahan baku oleh nilai tukar rupiah yang anjlok pada tahun 1998. Namun berkat keuletannya, kini menjadi salah satu nasabah di BPR Weleri Makmur itu  terus mengembangkan usahanya.

Dengan prinsip berwirausaha untuk kemaslahatan orang banyak dan menciptakan sesuatu yang tak ada menjadi ada itu, Eka juga membocorkan kunci suksesnya agar tak lengah saat punya penghasilan tinggi. “Bekerja sambil terus belajar, kerja keras dan hidup tak neko-neko,” kata Eka saat mengakhiri perbincangan bersama tim WMagz, awal bulan Februari lalu.