Mohon Tunggu Sebentar

loading icon

 

Bagi H. Riyanto Joko nugroho dan Hj. nur Widayati se, beras tak semata menjadi makanan pokok sehari-hari melainkan juga bagian dalam jalan hidup. meski sudah akrab dengan beras sejak kecil, namun Joko, sapaan Riyanto Joko nugroho, baru merintis usaha jual beli beras ketika kuliah di akademi Pariwisata ambarrukmo, Yogyakarta. dia merintis usahanya dari nol, dengan memasarkan beras ke warung-warung dan pasar tradisional di Yogyakarta.

Keterbatasan uang saku dari orang tua “memaksanya” untuk menekuni bisnis ini. berkat kegigihan dan komitmen Joko dalam menjaga kualitas beras yang dijual, omsetnya pun terus bertambah. Perlahan, pria kelahiran 9 desember 1969 ini mampu memperluas jaringan pemasarannya hingga ke restoran-restoran di Yogyakarta.

Berkat beras pula, Joko berkenalan dengan nur, anak seorang pengusaha penggilingan padi di Yogyakarta. meski tak jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi perlahan benih-benih cinta tumbuh di hati keduanya. Pada 1995, Joko resmi meminang nur sebagai istrinya. bisnis jual beli beras rintisan Joko tetap berlanjut pascamenikah. malah bisnis itu terus tumbuh berkat dukungan sang istri. bagi Joko, nur tak hanya jadi pasangan hidup namun juga partner kerja yang selalu dapat diandalkannya. mulai dari kegiatan produksi hingga pemasaran dilakukan sendiri oleh keduanya. Kepada sang istri, Joko selalu terbuka soal keuangan. Keduanya juga berusaha untuk tidak terlalu terbeban dengan hutang. Hutang yang mereka miliki untuk menjalankan usaha, semata-mata hanya sebagai stimulus supaya lebih giat bekerja. lantaran tidak terbeban hutang-piutang, laba yang didapatkan Joko dan nur dari usaha produksi beras dapat disisihkan untuk memperbesar modal usaha.

“itu sudah komitmen saya dan istri untuk menyisihkan laba dan menambah modal. Karena semakin besar modal yang kita miliki, pangsa pasar bisa dikuasai. Tapi kita juga harus bisa menahan diri. Kalau cash flow rendah, ya tidak usah beli (gabah). Percaya saja, rejeki sudah diatur. Kalau memang rejeki pasti ada jalannya,bendahara Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan beras indonesia (Perpadi) Jawa Tengah ini saat ditemui tim Wmagz di kantornya di desa seyegan, Kelurahan Karanganom, Kecamatan Klaten utara, Kabupaten Klaten, awal Februari lalu.

Menjadi pengusaha penggilingan padi, dikatakan nur, tak melulu menguntungkan. selama masa paceklik seperti saat ini, kualitas beras terbilang buruk, banyak butir padi yang rusak. sedangkan kuantitas sangat terbatas. “Kalau masa seperti ini, gabahnya tidak mesti. Kadang rendemennya tidak bagus, bahkan ada yang isinya kosong. beda dengan saat musim panen, kuantitas berlimpah, dan hasil panenan bagus,” kata salah satu nasabah bPR Wm ini.saat ini Joko dan nur pun tengah dipusingkan dengan belum adanya Harga Patokan Pemerintah (HPP) yang dikeluarkan oleh Presiden Joko Widodo. Padahal, masa panen sudah semakin dekat. lantaran belum ada HPP, maka harga yang berlaku ditentukan dari faktor permintaan dan penawaran pasar.“ini susahnya kalau belum ada HPP. Pengusaha beras menjerit semua. Kami tidak bisa beli gabah dalam partai besar. Padahal petani kalau gabahnya tidak dibeli ya kasihan,” Imbuhnya.

“Disiplin dalam segala hal dan komitmen itu perlu supaya kita dipercaya orang. Cengli, kalau orang Tionghoa bilang. Kalau kita ndak cengli, ndak dapat rezeki,” tandas pria yang juga menjabat sebagai sekjen Paguyuban mitra Kerja bulog solo se- Karesidenan surakarta ini. (lau)

Leave a reply

H. Ali Mashar

Pengusaha Krupuk Rambak Citra rasa

 

Lulusan D3 Politeknik Undip Semarang  ini memang  jeli melihat  prospek usaha. Itu sebabnya  ia berani meninggalkan pekerjaannya di konsultan  dan kontraktor, kemudian pilih meneruskan mengembangkan usaha krupuk rambak Citra Rasa milik ibunya, yang terletak di desa Penanggulan, Pegandon, Kendal.

Ditemui di tempat usahanya, H. Ali Mashar mengatakan, dirinya menjalankan usaha ini sebagai  generasi  kedua dan  mulai  terjun  tahun  1998, namun mulai serius menggeluti baru tahun 2009, sedangkan usaha ini sendiri dimulai sejak 30 tahun  silam tepatnya tahun  1984 yang dijalankan  oleh ibunya dengan  nama Citra Rasa.

“Sebelumnya saya juga bergerak dalam usaha mini market, kemudian saya memutuskan untuk berkonsentrasi pada salah satu bidang usaha saja yaitu usaha krupuk rambak/kulit, di samping sebagai  warisan keluarga tentunya”.“Saya full memegang roda usaha ini sejak berhenti  dari usaha mini market tahun  2009”, ulang pria yang akrab dipanggil Pak Ali ini ketika dikunjungi tim Wmagz di rumahnya.

“Sementara itu ditanya tentang omset, ayah dua anak ini menjelaskan, untuk omset per bulan 40 juta rupiah untuk krupuknya, sedangkan rambak sayurnya 50 juta rupiah.  Dengan menghabiskan 3 kuintal kulit rambak , sedangkan yang sayur mencapai  7 kuintalan. “Kalau soal bahan  baku dulu memang ada kendala, namun sekarang  tidak lagi setelah punya channel dari luar Jawa seperti  dari Sulawesi, sehingga  tidak sulit lagi. Bahkan selalu terpenuhi utamanya  yang untuk sayur seperti bahan  untuk masakan  sambel goreng.” “Kalau ada kendala   justru terletak pada musim, seperti  musim hujan sehingga menghambat pada proses pengeringan, akibatnya juga mempengaruhi proses produksi.” imbuhnya.

“Tetapi meski masih terkendala dalam soal pemasaran yang belum meluas, saya percaya dengan promosi secara getok tular lewat para wisatawan itu akan membantu pemasaran juga”ujarnya.

“Sekarang dalam rangka menghadapi persaingan, saya selalu menjaga kualitas, disamping itu saya menggunakan metode jemput bola, sehingga persaingan itu bisa ditaklukkan dan buktinya sampai sekarang bisa eksis, ditambah lagi sekarang sang istri juga ikut terjun langsung dalam pemasaran.”

Ditanya apa yang mendorong memilih BPR WM sebagai bank untuk memperbesar usahanya, ia mengatakan kalau BPR WM pelayanannya baik, sedangkan kalau ada masalah bisa langsung dihubungi untuk memecahkan masalahnya .“Disamping itu tidak ribet dan bunganya tidak terlalu tinggi, prosesnya juga tidak terlalu lama, sehingga cepat cair. Komunikasinya juga enak dan kekeluargaan banget.” imbuhnya. Ditanya mengenai kunci sukses beliau berujar, “memegang prinsip, bekerja keras, menjaga kualitas, jujur dan kreatif serta tidak lupa berdoa memohon campur tangan Allah SWT, sehingga roda usaha ini terus bias berjalan lancer dan meningkat baik.” Pungkasnya. (tono)

Leave a reply

Sadar sebagai pewaris Perusahaan  Ottobus Muncul, Rudy yang baru lulus dari kampus Universitas Tri Sakti tahun 1988 silam, rela kembali ke rumahnya di kota Solo. Ia meneruskan usaha yang didirikan oleh orang tuanya. Saat itu PO. Muncul bukan sembarang perusahaan transportasi, angkutan penumpang yang dikelola perusahaan keluarga itu sudah mempelopori layanan Cepat Terbatas (Patas) untuk rute Jakarta-Wonogiri dan Semarang- Solo.

Bahkan perusahaan yang telah dibangun sejak tahun 1950 itu terus mengibarkan layanan hingga ke pulau Sumatera. “Saya harus bekerja keras, ulet dan jujur. Karena PO Muncul telah mempelopori dalam memberikan layanan Patas,” kata Rudy saat bertandang di kantor cabang Bank Perkreditan Rakyat Weleri Makmur Surakarta, pertengahan April lalu. Sikapnya yang ia sampaikan itu menjadikan Rudy mudah menghadapi karyawan perusahaan yang karakternya beragam, termasuk budaya kerja jalanan sebagai basis bisnis transportasi yang ia kelola. Prinsip kerja keras itu ia buktikan dengan menyerahkan semua waktunya untuk konsentrasi memonitor dan mengelola  secara rinci operasional angkutan setiap hari. “Nyaris tak punya waktu untuk libur,” kata Rudy mengawali cerita menjalankan bisnis transportasi milik keluarganya. Rudy merupakan  putra tunggal dari sang pendiri perusahaan, tentunya tak mudah mengelola  perusahaan transportasi yang selama ini dikenal sering berhadapan dengan dunia jalanan itu. Ia pun mengalami pahit getir menjalankan perusahaan yang mengandalkan sektor bahan bakar minyak dan kebutuhan mobilitas publik. Tak jarang Rudy harus menghadapi resiko minimnya penghasilan di saat Bahan Bakar Minyak  (BBM) sedang naik.

Tantangan bahan bakar yang naik itu bukan satu-satunya yang harus ia hadapi, apa lagi usaha transportasi yang ia kelola saat ini dibatasi dengan usia kendaraan atau umur pemakaiannya, sehingga harus terus diremajakan de-ngan kendaraan baru. Situasi sulit usaha tinggalan sang ayah ini masih di tambah  dengan membanjirnya kendaraan pribadi dan banyaknya sepeda motor untuk angkutan jarak jauh. Dalam situasi seperti itu, Rudy bersama PO. Munculnya tak pernah patah semangat. Ia pun harus membuat terobosan sistem operasional yang dijalankan berdasarkan  situasi pasar transportasi umum.

Tak jarang Rudy pun harus menjalankan unit busnya hanya50 persen dari 60 armada antar kota antar provinsi yang ia kelola. Baginya, usaha transportasi saat ini mengalami banyak tantangan, meski PO Muncul sendiri diakui punya penumpang militan atau pelanggan setia yang selalu menggunakan armada miliknya. Pahit getir bersama usaha warisan itu, Rudy punya prinsip tersendiri dalam menjalin komunikasi dengan para karyawan. Baginya komunikasi dan mendekatkan karyawan merupakan  bagian yang tak terpisahkan. Konsep itu ia jalankan meski di antara mereka merupakan  pekerja senior dan memulai karir sejak perusahaan yang didirikan orang tuanya  dirintis.

 

 

Leave a reply

Jauh waktu sebelum Eka Soelistya malang melintang ia bekerja ikut orang lain kemudian mendirikan PT. Eka Griya Lestari, ia telah punya kegiatan membudidayakan rumput Manila dan tanaman hiasnya. Salah satu jenis usaha agri itu dibudidayakan di lahan seluas 5 hektare di kawasan Jangli.  Saat itu mengelola usaha sambil sekolah, berbarengan dengan mengelola akuarium air laut dan ikan hias. “Saat itu nilai jual tanah lebih rendah di bawah rumput Manila,” kata Eka. Tepatnya tahun 1973 harga tanah per meter hanya Rp 5 ribu, sedangkan rumput yang ia budidayakan mencapai Rp 7.500 per meter. Ia pun terus mengembangkan lahan hingga mencapai 9 hektare, kemudian menjual ke pengembang asal Jakarta yang hendak mendirikan perumahan di atas lahan miliknya. “Namun perusahaan itu menjual kembali dan karena tersandung masalah kerja sama.” kata Eka mengenang.

Kini tanah bekas miliknya yang telah dijual itu jadi perumahan Grand Candi Gold. Ia sendiri menginvestasikan uang hasil penjualan tanahnya dengan cara membeli di kawasan Beringin kecamatan Ngaliyan  dan memulai mengembangkan perumahan lewat PT Eka Griya Lestari yang didirikan setelah meninggalkan pekerjaannya di Groupnya Toko Ada Swalayan.

Meski tak mudah untuk mengawali usaha properti ini, tak jarang Eka harus menanggung risiko kenaikan bahan baku oleh nilai tukar rupiah yang anjlok pada tahun 1998. Namun berkat keuletannya, kini menjadi salah satu nasabah di BPR Weleri Makmur itu terus mengembangkan usahanya. Dengan prinsip berwirausaha untuk kemaslahatan orang banyak dan menciptakan sesuatu yang tak ada menjadi ada itu, Eka juga membocorkan kunci suksesnya agar tak lengah saat punya penghasilan tinggi. “Bekerja sambil terus belajar, kerja keras dan hidup tak neko-neko,” kata Eka saat mengakhiri perbincangan bersama tim WMagz, awal bulan Februari lalu. ***

 

Leave a reply
Open chat
Chat dengan kami disini!
BPR WM
Hallo, ada yang bisa kami bantu?